lambang kesuburan

Si Jagur beratnya 3,5 ton dengan panjang 3,85 meter dan diameter laras 25 sentimeter. Dibawa oleh Belanda dari Malaka setelah Malaka direbut dari tangan Portugis tahun 1641. Berkaliber 24 pon dan ditempatkan di salah satu kubu kastil batavia.

Dari keterangan yang saya dapat dari informasi Museum:

Di atas meriam terlihat tulisan:
Ex me ipsa renata sum (Saya lahir dari diri sendiri) dan angka latin X + I + V = XVI, artinya 16 meriam berukuran lebih kecil dileburkan untuk menciptakan “Si Jagur” ini. Kemungkinan meriam ini dibuat oleh M.T. Bocarro di Macao (Cina) untuk benteng Portugis di Malaka. Meriam ini ditempatkan di halaman belakang Museum Sejarah Jakarta.

Ex me ipsa renata sum

Ada yang membedakan meriam ini dengan meriam lainnya yang pernah ada. Uniknya adalah, bahwa Si Jagur ini mitosnya dianggap sebagai lambang kesuburan.

Coba deh lihat ujung Si Jagur, kepalan tangan kanan dengan jempol dijepit oleh jari telunjuk dan jari tengah. Dahulu katanya banyak peziarah yang datang, mengelus-ngelus ujung jempol Merian dengan harapan dapat memperoleh keturunan.

Pertama kali saya lihat juga agak sedikit takjup dan tertawa, sempat pula berpikiran kotor, kok bisa dibentuk dengan jari tangan seperti itu, sekarang saya baru mengerti maksudnya. Mungkin dianggap sebagai lambang kesuburan karena bentuknya identik dengan lambang bagian reproduksi laki-laki ;))

Si Jagur ternyata tidak dari awal berada di dalam Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah. Pernah berada di Jembatan Kota Intan, lalu dipindahkan ke Museum Nasional (Museum gajah). Pada tahun 1968, dipindahkan lagi ke Museum Wayang, lalu tahun 1974 dipindahkan ke Taman Fatahillah, di depan museum Fatahillah. Lalu kemudian, karena banyak peminat akhirnya dipindahkan ke dalam Museum sampai sekarang.

Baca dari Kompas, menurut mitos lainnya, di Keraton Solo, Si Jagur ini ternyata mempunyai jodoh, ada Meriam dengan jenis kelamin perempuan, yang katanya kalau mereka disatukan akan membuat negara subur dan makmur :D