Wed 5 Sep 2007
Sabtu ini saya mau ke Museum Gajah.
Museum Gajah? Isinya gajah-gajah gitu yah.
*Lalu tiba-tiba saya jatuh dari kursi* =))

Mungkin ini efek samping jika anda bergaul dengan mahluk halus penghuni candi yang doyan jeng-jeng itu, jadi ketularan pengen jalan. Baiklah akan saya jelaskan, Petualangan Museum Pertama Saya, bersama adik saya yang gila itu, KAMI PETUALANG BERSAUDARA
Museum Nasional yang terletak di Jalan Merdeka Barat no.12 ini memang lebih dikenal dengan nama Museum Gajah. Disebut demikian karena tepat di halaman depan museum ini terletak patung Gajah yang terbuat dari perunggu pemberian Raja Siam (sekarang adalah Thailand) Yang Mulia Somdej Praparamintramaha Chulalongkorn *mengeja namanya sambil nahan napas* kepada Pemerintahan Kota Batavia pada Maret 1871 M.
Museum ini didirikan pada tanggal 24 April 1778 oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Bataviaasch Genootschap van kunsten en Wetenschappen dan dibuka pada tahun 1868 oleh Persatuan Kesenian dan Ilmu Pengetahuan Batavia. Di museum ini kita bisa melihat peninggalan dari kebesaran kerajaan, kebudayaan dan peradaban masa lampau di Indonesia. Arca, Menhir, Prasasti, Patung, artifak, senjata daerah, gamelan dari bermacam kebudayaan bisa dilihat di dalamnya. Disini saya baru tau kalau ternyata Kalimantan juga memiliki Gamelan ![]()
Saat saya memasuki pintu utama, terdapat ruangan yang penuh dengan arca dan patung-patung yang berasal dari kebudayaan Hindu dan Budha. Patung Kepala Budha yang berasal dari Candi Borobudur, Patung Dewa Siwa, Dewa Wishnu dan Brahma, Agastya, serta ukiran-ukiran relief.
Yang menarik disini adalah sebuah arca setinggi hampir 3 m. Arca Bhairawa, yang merupakan perwujudan Raja Aditiawarman yang memerintah Malayu pada tahun 1347-1375. Selain karena massive nya, tapi juga perwujudan dari arca tersebut yang mengerikan. Saya jadi penasaran, apakah memang si Raja ini pada masanya terkenal sangat keji? Di arca tersebut, Sang Raja ini berdiri di 6 buah kepala tengkorak sambil menginjak seseorang dengan kedua kakinya. Lalu di tangan kanannya memegang belati, dan tangan kirinya seperti memegang cawan yang penuh darah.
Saya juga melihat kamar khusus yang diperuntukkan untuk memuja Dewi Sri yang biasanya terdapat di rumah para Bangsawan Jawa. Kamar tersebut lengkap dengan alat persembahan, tepat di muka tempat tidur diletakkan patung sepasang pengantin Jawa *Loro Blonyo*, sepasang kendi tanah, sepasang wadah padi dan palawija dan lampu *Robyong* yang selalu menyala setiap saat. Ruangan tersebut biasanya disebut Pasren atau Petanen yang artinya tempat hasil pertanian. Setiap habis panen, hasil panen dibawa ke kamar ini untuk diinapkan semalaman, baru esoknya dibawa untuk upacara.
*Disini juga terdapat koleksi keramik yang terbuat dari perunggu dari dinasti Han, Tang dan Ming yang masih utuh dan termaksud salah satu koleksi keramik terbesar di dunia, khususnya keramik-keramik Asia Tenggara. Sedangkan koleksi lukisan yang terdapat di museum ini terdiri dari lukisan karya pelukis-pelukis Paris, antara lain; karya Kandensky, Zou Wuki, Georges Braque, Polk Lee yang terakhir dipamerkan tahun 1991 lalu (tulisan diambil dari website jakarta.go.id tanpa diedit)*
Saya sebenarnya lebih mengagumi bangunan tua museumnya. Saat kita memasuki ruangan tengah, tempat dimana taman tengah berada, lalu kita lihat sekeliling tampak koridor dengan pilar-pilar khas Romawi Kuno, saya seperti melihat kembali Pompeii. Terlebih lagi, di ujung-ujung pilar bagian atas, terdapat ukiran patung Kepala Singa, sehingga menambah kesan bangunan Romawi kuno. Art deco yang menunjukkan bangunan Belanda nya memang masih terlihat di ujung-ujung atas dan bawah dinding serta tepi sudut dinding. Jendela yang besar dan tinggi dengan kisi-kisi serta lampu gantung dari besi ulir khas bangunan Batavia.

Museum ini sudah mengalami rehabilitasi dengan penambahan dua gedung baru di sebelah kiri dan belakangnya. Gedung sebelah kiri 6 lantai dengan 2 lantai bawah tanah, dan gedung belakang 10 lantai juga dengan 2 lantai basement. Yang eye catching adalah penghubung bangunan lama dengan bangunan baru yang ditampilkan dengan jembatan yang kanan kirinya transparan terbuat dari kaca dan tepat dibawahnya adalah audiotorium outdoor.
Di gedung barunya ini, barang-barang koleksi dipamerkan dengan template yang lebih modern. Saya saat itu hanya sempat melihat bagian manusia purba, dan ruangannya memang terlihat sangat modern, seperti counter-counter di mal

Oh ya, untuk dapat menikmati koleksi di museum ini hanya dipungut Rp 750,- …IYAAA CUMA 750 RUPIAH! Haaah….masih ada yah pintu masuk seharga itu? Sayangnya, walaupun tiket masuknya begitu murah, antusias masyarakat terhadap museum menyedihkan.
Ah, tapi tidak juga. Saat saya kesana, banyak anak-anak sekolah yang juga berkunjung. Tapi tentu saja, dengan satu tujuan…
BERFOTO NARSIS DI DEPAN ARCA MANUSIA BERKEPALA GAJAH!
Seperti normalnya suatu museum, barang-barang koleksi dilarang untuk disentuh atau diperlakukan kasar sampai menimbulkan kerusakan. Tapi saya perhatikan, si anak-anak itu malah NGETOK-NGETOK KEPALA ARCA…tapi itu belum seberapa, mereka lalu…
NGEDUDUKIN SI ARCA 3 METER ITU BARENG-BARENG LALU FOTO-FOTO?!
*SHOCK*
Mereka gak ngerasain ngegalinya sih!
Yah, begitulah generasi kita menghargai benda bersejarah
Termasuk hasil jepretan kamera saya yang setelah dilihat malah kebanyakan foto diri sendiri bukan museumnya…MAKLUM SAYA KAN BLOGGER ;))
Foto selengkapnya silahkan dilihat disini:
http://demonoid.multiply.com/photos/album/16/Museum_Gajah
TRANSPORTASI:
Naik Transjakarta koridor Blok M-Kota, lalu turun di Halte Monas. Museum Tepat berada di seberang halte. Ongkos Tije Rp 3,500.
JADWAL:
· Senin-Kamis, pukul 08.30 - 02.30 wib.
· Jumat, pukul 08.30 - 11.30 wib.
· Sabtu, pukul 08.30 - 01.30 wib.
· Minggu, Tutup.
NOTE:
Sebenarnya aturan dari pihak museum melarang untuk memotret, tapi kenyataannya tidak diindahkan. Saya yang tadinya mematuhi peraturan akhirnya tergoda juga. Walaupun bukan untuk memotret objek koleksi. Hal ini dikarenakan saya takut, kalau-kalau si penunggu benda malah ikutan narsis lalu ke foto :(( Asal tau saja, di antara benda koleksi terdapat boneka Jelangkung hiiiii :((
June 10th, 2008 at 7:31 pm
wah seneng banget baca reviewnya mba.
aku mo pergi ke sana tapi ga jadi-jadi, karena ga ada temen hehe..
anyway terima kasih reviewnya ya mba.. sabtu besok aku ke sana deh.
ditunggu tempat-tempat wisata jakarta yang lain dari pada yang lain
June 26th, 2008 at 10:40 am
Well done…
please inform us if U have some information like this..
August 1st, 2008 at 2:26 pm
Great post indeed.
sedikit ngomentarin tentang larang foto, perasaan di museum nasional yang gak boleh ambil gambar cmn di ruangan koleksi benda-benda berharga (treasure section) saja deh, area selain koleksi benda-benda berharga (koleksi emas dan batu2 berharga masa lalu) boleh ambil foto. CMIIW
August 30th, 2008 at 12:15 pm
Wahh…
membantu banggeedd…
aq ada tugas bwat biqin kliping tentang museum nasional…
untung jha ada yg ngepost ttg ni museum…
taphi emg bnerd sieh, qtha q sna bwad futo narsisan…
taphi gagh ad yg smpe naeq k atz arca ah..
megang aj d tgor ma guide leader na…
hehee…
tHx bRaaadd….