September 2007


taman menteng

Akibat kesibukan kantor belakangan ini *halah*, saya tidak sempat mencari referensi tentang Taman Menteng ini. Perjalanannya pun tidak terlalu direncanakan karena mumpung sekalian lewat pas ada keperluan.

Taman Menteng ini cukup terkenal sekarang. Pada awal-awal tahun ini, Gubernur Jakarta sempat membuat heboh dengan rencana penggusuran stadion bersejarah milik Klub sepak bola Jakarta *cmiiw* lalu menjadikannya taman kota. Sempat menimbulkan banyak pertentangan tapi toh akhirnya stadion tersebut sekarang menjadi taman kota yang cantik.

Terletak diantara perumahaan di kawasan Menteng, menjadi alasan utama perubahaan pemanfaatan lahan, dari stadion menjadi taman kota. terlepas dari kontroversi mengenai sejarah stadion tersebut, dilihat sekarang, taman kota ini cukup pantas berada di lahan tersebut. (more…)

Semalam akibat nonton channel favorit saya, Elshinta channel, saya baru tau kalau ternyata julukan Kota Paris bukan hanya ditujukan untuk Kota Bandung. Pada abad ke-17 sampai abad ke-18, Ancol, yang merupakan wilayah Pelabuhan di daerah Jakarta Utara, terkenal dengan kemewahan dan pemandangannya yang indah. Sebagai pelabuhan tempat bersandar kapal-kapal baik nasional ataupun internasional, kawasan ini sangat maju dan terkenal di jamannya.

Salah satu bukti sebutannya sebagai Kota Paris, bisa dilihat di salah satu Papan nisan di sebuah makam yang ada di komplek Klenteng Ancol.

Klenteng Ancol sendiri juga unik. Sebagai vihara, klenteng ini bukan hanya didatangi oleh orang Budha dan keturunan Cina saja, tapi juga banyak warga muslim berziarah di tempat tersebut. Terjadi perpaduan unik antara dua agama.

Berkaitan dengan sejarah Sam Po Kong atau terkenal sebagai Cheng Ho, pembesar Cina dan salah satu penyebar agama Islam, yang sering mengunjungi Batavia. Klenteng ini ada hubungannya dengan salah satu bawahannya yang dikenal dengan nama Sam Po Soei So. Beliau kemudian menikah dengan putri dari seorang Orang Alim pribumi bernama Embah Said Dato Kembang, dan masuk Islam.

Kemudian, Sam Po Soei So meninggal begitu juga istrinya dan dimakamkan dalam satu liang di kawasan Klenteng tersebut. Begitu juga terdapat makam dari Mertuanya di kawasan Klenteng.

Sampai akhirnya Klenteng tersebut merupakan tempat ibadah bagi umat Budha dan tempat berziarah bagi warga muslim. Tapi akibat adanya wabah malaria di kawasan Ancol, banyak warga melakukan eksodus ke luar wilayah tersebut, dan jemaah Klenteng ini mulai pergi satu per satu. Tapi Klenteng ini sudah memberikan bukti, bahwa perbedaan yang ada tidak seharusnya menjadi pertikaian, asalkan ada rasa saling menghargai dan menghormati, terutama di Kota Jakarta yang multietnis.

Kalau punya waktu, saya ingin berkunjung ke Klenteng tersebut. Dari dulu, saya sangat tertarik dengan kebudayaan Cina *mengingat saya terobsesi dengan Kungfu dan Kungfu Boy* dan sejarah Jakarta. Mungkin baru sekarang mulai baca-baca dan cari bahan.

Sebagai salah satu kota yang hidup dan berkembang berawal dari bandar Pelabuhan. Batavia, Jayakarta, dan Jakarta, berkembang menjadi kawasan yang multietnis, sampai sekarang, dan itu adalah kekayaan yang sangat menarik untuk dipelajari.

Informasi lainnya :Forum Budaya Tionghoa

Sabtu ini saya mau ke Museum Gajah.

Museum Gajah? Isinya gajah-gajah gitu yah.

*Lalu tiba-tiba saya jatuh dari kursi* =))

Museum Nasional

Mungkin ini efek samping jika anda bergaul dengan mahluk halus penghuni candi yang doyan jeng-jeng itu, jadi ketularan pengen jalan. Baiklah akan saya jelaskan, Petualangan Museum Pertama Saya, bersama adik saya yang gila itu, KAMI PETUALANG BERSAUDARA :D

Museum Nasional yang terletak di Jalan Merdeka Barat no.12 ini memang lebih dikenal dengan nama Museum Gajah. Disebut demikian karena tepat di halaman depan museum ini terletak patung Gajah yang terbuat dari perunggu pemberian Raja Siam (sekarang adalah Thailand) Yang Mulia Somdej Praparamintramaha Chulalongkorn *mengeja namanya sambil nahan napas* kepada Pemerintahan Kota Batavia pada Maret 1871 M.

Museum ini didirikan pada tanggal 24 April 1778 oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Bataviaasch Genootschap van kunsten en Wetenschappen dan dibuka pada tahun 1868 oleh Persatuan Kesenian dan Ilmu Pengetahuan Batavia. Di museum ini kita bisa melihat peninggalan dari kebesaran kerajaan, kebudayaan dan peradaban masa lampau di Indonesia. Arca, Menhir, Prasasti, Patung, artifak, senjata daerah, gamelan dari bermacam kebudayaan bisa dilihat di dalamnya. Disini saya baru tau kalau ternyata Kalimantan juga memiliki Gamelan :P
(more…)