Celotehan anak kecil itu terdengar ketika saya baru sampai di lokasi dan bersiap-siap hunting rawon. Si Ibu bertanya, kamu mau makan apa? Langsung si anak dengan bersemangat menjawab, Apa saja ku makan, Bu!

Memang tidak salah! Di sini, apa saja yang disajikan menggiurkan untuk dimakan, dari hanya sekedar icip-icip sampai rela antri panjang untuk mencoba De’ Soerabi ataupun Mie Ayam Pak Kumis.

ambience-FJB

Dengan berbekal dua lambung, lambung saya dan adik, kami mulai bergerilya menyalurkan hasrat terpendam. Sajian yang kami makan pertama adalah Rawon Nguling. Dengan antri tidak begitu lama, akhirnya kesampaian juga makan rawon, rawon yang masih hangat memang sangat mengundang selera!

Strategi yang kami terapkan adalah, memesan cukup satu
porsi di setiap gerai jajanan. Selain mencegah perut kenyang sebelum puas mencicipi banyak jajanan, juga meminimalisasi waktu yang digunakan untuk makan. Karena satu porsi dimakan bersama, waktu yang digunakan pun menjadi lebih cepat. Dengan lebih cepat berarti bisa mempergunakan waktu selanjutnya untuk antri di gerai lainnya.

makan

Strategi lainnya adalah, tidak memesan jajanan lengkap dengan nasi. Nasi sangat membuat kenyang, dan membuat jajanan terlihat lebih berat. Tidak lupa, sebelum datang ke acara, saya sudah membaca info dari milis, sediakan air minum botol sendiri. Dengan membawa minum sendiri saya bisa berhemat beberapa ribu rupiah :)

Hasilnya adalah kami bisa makan Rawon Nguling, Mpek-mpek @bing, Martabak Kubang, Soto Udang Kesawan Medan, Mie Ayam Pak Kumis, Tahu Sumedang, Es Goyang, dan Sate Ayam. Yang kesemuanya kurang dari seratus ribu rupiah! Sayangnya, saya tidak bisa nyicip Es krim Ragusa, Soerabi Geulis dan Baso bakar :((

jajanan

FJB di Jakarta kali ini diselenggarakan bersamaan dengan Festival dan pameran lainnya. Sehingga bisa dibayangkan betapa ramainya Gelora Bung Karno saat itu. Untungnya, saya tidak membawa mobil pribadi, karena dari awal saya datang, yaitu jam setengah 2 siang sampai pukul setengah sebelas malam, antrian kendaraan yang masuk ataupun keluar Senayan benar-benar padat.

Secara tempat, saya kira memang tepat diadakan di Senayan, karena tidak ada tempat yang lebih baik dari itu kan di Jakarta ;) Tapi sayangnya, pemilihan lokasi di dalamnya, seperti kurang pas. Tata tempat dibuat menjadi Letter L, sehingga ada 2 bagian, untuk pintu masuk ke FJB ada di bagian yang sejajar dengan Istora, dan panggung ada di bagian belakang gerbang masuk selatan. Masing-masing bagian, di potong oleh jalan untuk lalu lintas kendaraan keluar.

foto

Untuk gerai jajanan di bagian pertama pas pintu masuk Festival ternyata tampak lebih ramai daripada di bagian kedua. Mungkin dikarenakan banyak orang tidak tahu bahwa ada bagian lain selain di tempat tersebut, karena bila kita ada di bagian satu kurang terlihat bahwa memang ada gerai lainnya di bagian dua. Selain itu, kurang nyaman karena kita mesti nyebrang melewati antrian mobil untuk sampai ke bagian kedua. Bahaya loh! Saking enaknya jalan sambil ngemil jajanan, sampai tidak tengok kanan kiri, bisa-bisa terjadi tabrak lari!

Kembali lagi ke isu kebersihan dan kerapihan. Mungkin karena buanyakk nya manusia, sampai-sampai alat makan bekas pakai berserakan disana-sini dan tidak mampu ditampung lagi. Untung saja, tidak berapa lama setelah saya mengeluhkan hal ini ke teman yang dulu juga mengeluhkan hal yang sama, saya melihat tempat sampah dari kardus-kardus besar yang dialihfungsikan menjadi tempat sampah. Okelah, daripada tidak ada. Tapi di gerai penjaja, memang tidak tersedia tempat sampah yang memadai. Dan ada beberapa penjaja yang menjual jajanan berkuah, tidak melengkapi mejanya dengan terpal atau plastik meja, sehingga saat ada makanan yang tumpah benar-benar mengotori taplak mejanya, sampai tidak keruan.

Untuk gerai jajanan, sebaiknya lebih dihias lagi, supaya lebih menarik, dan suasana tambah semarak. Tidak monoton hanya tenda putih, kita yang datang pun bisa terhibur dengan hiasan-hiasan cantik yang khas.

gerai jajanan

Secara keseluruhan, saya sangat antusias dengan acara ini. Kapan lagi bisa jajan makanan tradisional di satu tempat. Dan saat malam tiba bisa berkumpul bareng teman menikmati Kahitna, Audy, Sate Ayam Bumbu Kecap dan renyahnya Tahu Sumedang di tengah sinaran lampu gedung-gedung Ibukota.

fun

Mudah-mudahan FJB selanjutnya, variasi makanannya bisa lebih banyak. Tidak hanya makanan yang berat seperti soto, sop, nasi gila, martabak, tapi bisa juga mengumpulkan jajanan pasar berupa kue-kue yang sekarang sudah mulai susah dicari. Yah, memang sih, kue kan tidak pakai kecap hehehe…!

Festival Jajanan Bango, memang sebuah pengalaman yang menyenangkan! Tidak terkecuali untuk yang buta kuliner seperti saya :)